"Apakah seseorang yang kaucintai harus memeluk agama yang sama denganmu?"
Aku
duduk terdiam di depan tempat ibadah itu. Tempat ibadah yang mungkin
tidak akan pernah kumasuki seumur hidupku. Tempat ibadah yang selamanya
tidak akan kubiarkan kakiku menginjak dan merasakan lantai dingin yang
mungkin sedikit memberi kesejukan itu, masjid. Aku menunggunya dengan
sabar, menunggu kekasihku selesai beribadah. Terlintas pikiran nakal
kala itu,
"Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang yang tempat ibadahnya tak sama denganku?"
Tiga menit kemudian, beberapa orang telah meninggalkan tempat ibadah itu. Aku menyibukkan kepalaku dengan menggerak-gerakannya, celingak-celinguk kanan kiri mencari sosoknya. Lalu, beberapa detik kemudian seorang pria berlari-lari kecil ke arahku, dia adalah kekasihku, Rofi.
"Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang yang tempat ibadahnya tak sama denganku?"
Tiga menit kemudian, beberapa orang telah meninggalkan tempat ibadah itu. Aku menyibukkan kepalaku dengan menggerak-gerakannya, celingak-celinguk kanan kiri mencari sosoknya. Lalu, beberapa detik kemudian seorang pria berlari-lari kecil ke arahku, dia adalah kekasihku, Rofi.
"Sayang, nunggunya lama ya?"
Dengan nafas terengah-engah Rofi menyapaku.
Dengan nafas terengah-engah Rofi menyapaku.
"Enggak
kok, tenang aja. Dimuka kamu masih ada air wudhu noh, aku ada tissue,
mau dilap dulu enggak?"
Ungkapku sambil memeriksa isi tasku.
Ungkapku sambil memeriksa isi tasku.
"Boleh deh."
Jawabnya singkat sambil memerhatikan wajahku dengan seksama, aku terheran.
Jawabnya singkat sambil memerhatikan wajahku dengan seksama, aku terheran.
"Kenapa ngeliatin aku terus sih?"
Tanyaku sinis memelototi matanya.
Tanyaku sinis memelototi matanya.
"Kamu cantik, kenapa enggak pake jilbab aja?"
Gurau Rofi dengan tawanya yang khas.
Gurau Rofi dengan tawanya yang khas.
"Emangnya kalau aku pakai jilbab malah tambah cantik ya?"
Tanyaku balik sambil mengacak-acak rambutnya.
Tanyaku balik sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tentu saja, iya!"
"Cantik
itu dari hati kok, bukan dari jilbab."
Ujarku pelan sembari menarik tangannya agar melanjutkan perjalanan kita dengan berjalan kaki.
Ujarku pelan sembari menarik tangannya agar melanjutkan perjalanan kita dengan berjalan kaki.
"Iya, Sayang. Tapi..."
"Lagian juga, yang harus dijilbabkan bukan cuma fisik, tapi juga hati."
Timpalku memotong pernyataannya.
Timpalku memotong pernyataannya.
"Kok jadi dibawa serius sih?"
Rofi menahan langkahnya, menarik tanganku agar memberhentikan langkahku.
Rofi menahan langkahnya, menarik tanganku agar memberhentikan langkahku.
"Siapa yang bawa serius? Aku cuma enggak suka aja, kalau kamu enggak bisa terima aku yang enggak pakai jilbab ini yasudah. Kalau kamu enggak bisa terima agamaku, maka kamu enggak bisa mencintai aku kan?"
Pembicaraan menjadi panas, aku berjalan meninggalkannya. Seperti biasa, dia tak pernah mengejarku, dia tak pernah menahanku untuk tetap tinggal.
Pembicaraan menjadi panas, aku berjalan meninggalkannya. Seperti biasa, dia tak pernah mengejarku, dia tak pernah menahanku untuk tetap tinggal.
***
Ibu
menunggu di depan rumah. Wajahnya temaram kelam layaknya menunggu
seseorang. Aku menghampirinya dengan langkah terburu-buru.
"Mama, kok di luar?" Aku menghampiri mama sambil mengajak beliau memasuki rumah.
"Pulang sama siapa?"
Tanya mamaku singkat.
Tanya mamaku singkat.
"Sama, Rofi, Ma."
Jawabku, juga dengan pernyataan yang singkat.
Jawabku, juga dengan pernyataan yang singkat.
"Kamu masih sama dia, Nak?"
"Iya, Ma."
"Inget ngga nasehat, Mama?"
"Inget, Ma."
"Yang pertama?"
"Gelap tak mungkin bersatu dengan terang."
"Yang kedua?"
Aku
terdiam sejenak, menatap ibuku yang memegang bahuku. Dengan paksa aku
melepaskan tangannya, sambil bangkit berdiri aku berkata,
"Semua agama itu sama, Ma. Hanya cara menyembahnya saja yang berbeda!"
Bentakku ketus. Mama terdiam.
"Semua agama itu sama, Ma. Hanya cara menyembahnya saja yang berbeda!"
Bentakku ketus. Mama terdiam.
Dengan kesal aku membanting pintu kamar. Aku benci dijejeri pertanyaan sampah seperti itu. Apa salahnya jika aku menjalin hubungan lebih dari teman dengan seseorang yang tidak seagama denganku? Inilah Indonesia, perbedaan harus dianggap sebagai sesuatu yang tak akan pernah bisa disatukan.
***
Seusai ibadah, aku iseng melihat ke celah-celah pintu gereja, ada seorang pria yang sepertinya tengah menunggu seseorang, ia duduk di atas sepeda motornya. Setiap beberapa detik ia selalu melihat ke arah gereja, seakan-akan matanya menyusuri setiap celah-celah kecil gereja itu. Aku seperti mengenal raut wajah pria itu,
"Seperti Rofi."
Ucapku dalam hati, lirih.
Sekitar
pukul 02.00 siang, dengan langkah santai aku meninggalkan tempat
ibadahku, gereja. Ternyata benar dugaanku, pria yang sejak tadi
bertengger di depan gereja adalah Rofi. Aku mempercepat langkahku, tapi Rofi tetap menghampiriku.
"Rei, maaf ya kemarin."
Dengan wajah tersipu malu, Rofi menghampiriku.
Dengan wajah tersipu malu, Rofi menghampiriku.
"Aku
selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf."
Aku menghentikan langkahku, menatap matanya dan tersenyum sendu saat melihat wajahnya.
"Tapi, hubungan kita cukup sampai disini."
Aku menghentikan langkahku, menatap matanya dan tersenyum sendu saat melihat wajahnya.
"Tapi, hubungan kita cukup sampai disini."
Seakan-akan ribuan pedang menghujam Rofi, matanya berair, dia menatapku dengan serius,
"Kamu beneran?"
"Kamu beneran?"
"Ya."
Jawabku singkat, sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain. Matanya berair, aku tak pernah suka pemandangan itu. Cowok kok sukanya nangis?
Jawabku singkat, sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain. Matanya berair, aku tak pernah suka pemandangan itu. Cowok kok sukanya nangis?
"Sesingkat ini?"
"Sesingkat? Hubungan kita sudah satu tahun! Dan, mau tahu hal yang selalu kutahan? Kamu
selalu memperlakukanku seperti temanmu bukan kekasihmu. Kamu tidak
pernah berusaha menjaga perasaanku. Kamu tak pernah berusaha mentolerir
agamaku, maka kamu tidak akan pernah menerima cintaku."
Jelasku panjang lebar, membiarkan hatinya teriris.
Jelasku panjang lebar, membiarkan hatinya teriris.
0 komentar:
Posting Komentar