Minggu, 02 Desember 2012

Hubungan Jarak Jauh

Diposting oleh Ardi di 00.14
     Kalian tahu? Ini sebuah tulisan yang tidak mudah untuk ditulis. Kenapa bisa? Tulisan ini harus membuat semua kalangan mengerti apa yang di tulis. Berdasarkan fakta bahwa tidak semua orang, bakhan sedikit orang yang menjalani apa yang gue jalanin, membuat tulisan ini semakin sulit untuk dibuat.

     Semua orang menginginkan cerita cinta seperti yang ada pada FTV zaman sekarang. Dengan siklus yang mudah ditebak dan rintangan yang bisa dengan mudah ditebak alurnya. Yah.. Sutradara dan penulis naskah FTV itu manusia. Manusia yang menuangkan segala mimpi tentang kehidupan dalam sebuah sinema. And, they did it well. Saat menontonnya semua orang terpaku dan mulai ingin merangkai kisah dengan alur yang sama persis. Ikut tersenyum, menangis, dan juga berharap bahwa apa yang ada dalam kehidupan nyatanya adalah sama. Tapi, saat berakhir tentu saja Happy Ending. Mereka, termasuk gue, harus dihadapkan kembali dengan kehidupan nyatanya yang ternyata memang sama dengan apa yang barusan ditayangkan. Sama dibagian klimaksnya, tapi tidak mengerti penyelesaiannya. Beda tipis.

Saat kembali tersadar "Ah, kenapa hidup gue engga kayak yang barusan gue tonton."
     Selalu dan selalu seperti itu.
     "Jangan iri" Menurut gue.
Bukan tindakan yang salah dan bukan tindakan yang dibenarkan. Beberapa orang memang bernasib sama dengan apa yang sering diangkat dalam sinema-sinema di televisi. Ya, karena memang lagi-lagi naskah yang dibuat diangkat dari kehidupan sehari-hari dan diperbaiki di akhir cerita lalu diformulasikan sedemikian hingga menarik untuk disaksikan, berjalan mulus, dan berakhir happy ending.
     "Jangan iri" Menurut gue.
     Sekali lagi, menurut gue, jangan iri. Sebenarnya kita sedang menjalankan skenario tuhan. Apapun itu. Baik, buruh, bahagia, sedih, dan apapun itu. Tapi, semua ngga lantas membuat kita menyerah pada takdir dan diam begitu saja begitu mendengar semua sudah direncanakan dan ditulis oleh Yang Maha Kuasa.

     Saat dihadapkan dengan sebuah prosa dalam buku kehidupan kita yang terlalu susah untuk ditemui kelanjutannya, termasuk kesusahan berupa jarak yang memisahkan kedua insan yang sedang bertahan dan menguji seberapa besar perasaan itu layak di mata tuhan untuk dipersatukan, apakah akan berhenti menulis lalu menunggu saat yang tepat untuk melanjutkan ceritanya? Ataukah, mungkin hanya akan terlontar ucapan seperti "Ini kan takdir, pasti nanti bakal diselesaikan sama tuhan"

     Bukankah kita adalah manusia yang memang seharusnya berusaha? Ataukah, hanya akan menyerah pada takdir tanpa berusaha memperbaikinya?
     "Ini kan rencana tuhan dan sudah digariskannya, apa bisa kita menentang? Sudahlah, kita tunggu saja apa yang bisa akan tuhan berikan pada kita selanjutnya"

     Apa guna doa? Apa gunanya harapan? Apa gunanya usaha? Kalau masih meremahkan seperti itu kenapa tidak dari dulu berdiam diri saja dan menunggu jodoh datang mengetuk pintu rumah kita lalu mengajak kita untuk menjalani kasih bersamanya?
     "Ya sudahlah, nanti juga bakal baik-baik saja" Tunggu saja, dan silahkan berspekulasi.
Tak sesederhana yang lain, hubungan jarak jauh membutuhkan kesabaran, usaha, dan kepercayaan. Sebenarnya tidak hanya itu unsur yang harus diperhatikan, figure out what we need. Semua itu tidak bisa berdiri sendiri-sendiri dan bertahan pada satu aspek saja. Tidak ada unsur yang saling mengesampingkan satu sama lain, semuanya berkaitan, saling mempengaruhi dan memiliki peranannya masing-masing.

     Hubungan jarak jauh memang membutuhkan kesabaran untuk menunggu. Namun, masalah yang datang tidak akan bisa menunggu dan selesai begitu saja. Hubungan jarak jauh membutuhkan usaha untuk setiap permasalahan yang akan datang. Usaha untuk menyelesaikan dan memperbaiki, bukan usaha untuk menghindari ataupun mengakhiri apa yang sudah selama ini diyakini. Hubungan jarak jauh membutuhkan kepercayaan yang besar, kepercayaan akan dirinya disana yang memiliki perasaan yang sama, rindu yang sama, dan hak yang sama. Bukan kepercayaan bahwa jarak ini hanya akan mempersulit perjalanan dan menambah beban serta hanya akan menjadi penyakit saja. Secara garis besar memang seperti itu. Figure it out.

     Setiap orang dihadapkan pada sebuah jalan lurus yang nantinya pasti akan bercabang, berlubang, buntu, dan kadang hilang arah. Setiap cabang tentu akan memiliki alur baru tersendirinya, akan memiliki rintangan tersendiri. Berat atau tidaknya, semua itu bergantung pada apa yang kita dapatkan sebelumnya. Cukuplah bekal kita? Cukupkah pengalaman kita?

     Semua ini terkait dengan satu pertikaian dalam hubungan. Pertiakaian itu datang bukan untuk dihindari, bukan datang untuk memisahkan. Jangan selalu membenarkan diri, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa disalahkan dan dibenarkan. Hal penting lainnya adalah, bagaimana cara menemukan titik temu terbaik seperti dalam pertikaian yang diselesaikan dengan bertatap muka. Ambillah setiap pelajaran dari pertikaian yang ada. Bukankah tak mau kita jatuh pada lubang yang sama atau hilang arah bahkan tersesat pada jalur yang sama? Siapa yang menginginkan hal itu? Pertengkaran tidak selalu negatif. Justru dari situlah muncul sebuah pemahaman akan pribadi dan cara berpikirnya hingga membuat kita semkain mengerti si dia. Jangan mengeluh, selesaikan. Tentu saja tanpa menyinggung dan melukai perasaannya.

     Setidaknya jangan anggap jarak sebagai suatu penghalang dan suatu masalah yang bisa membuat semuanya menjadi runyam. Tidak semua orang mengalami dan bisa belajar menjadi kekasih yang baik lewat hubungan jarak jauh. Kalau tidak berpikir seperti itu dengan alasan apalagi kita harus berdiam diri untuk tetap galau dan risau? Berbanggalah.

     Memang tidak semudah mengatakan dan menguraikannya. Tidak semua orang memiliki kesiapan hati dan kekuatan yang sama. Namun, di situlah letak kekuatan yang beragam dari hubungan ini. Bagaimana menciptakan sesuatu yang nantinya justru akan membuat hubungan terlihat semakin kuat dimata berbagai pihak. Tidak selalu berkutat dengan air mata. Dan tidak selalu berkutat dengan ketidak sanggupan.

     Hal-hal kecil yang tidak diperhatikan, menjadi sebuah hal yang berharga di mata kita, sesungguhnya, sadar ataupun tidak. Bahagia akan hal-hal sederhana sebenarnya sudah menunjukkan betapa hubungan ini membentuk kita menjadi sebuah pribadi yang dibutuhkan dalam hubungan jarak jauh dengan sendirinya, dan kemudian menjadi pribadi berbeda, meskipun orang mengatakan bahwa hubungan ini tidak akan berhasil, karena hanya sedikit yang mampu bertahan hingga akhir. Apa yang mereka maksud sedikit itu adalah kita. Aku dan pasanganku, kamu dan pasangamu.

     Dering telepon? Foto? SMS sederhana? Semua itu hal yang lain. Ucapkan 'Selamat pagi' dan 'Selamat malam' tampak sangat sederhana, namun berarti lebih dari sederhana saat membaca ataupun mendengarnya. Memang tidak ada penghantar tidur sebaik suaranya ataupun ucapan manis darinya. Semua itu sederhanakan? Tidak semua pasangan melakukannya. Coba saja. Senyum risih karena merasa sesak bahagia itu mahal harganya, dan semua itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.

     Sayangnya, dalam perjalanan merangkai kisah ini, tidak disediakan remover, penghapus, terlebih lagi tombol undo. Semua yang terjadi tidak bisa diulang kembali. Cara termudah adalah, tetap menulis. Buka halaman selanjutnya, dan tetap menulis. Perbaiki apa yang harusnya diperbaiki, kenapa tidak? Bukankah kau sendiri yang menulis buku itu, dan memutuskan untuk menuliskan ceritanya? Sekarang, siapa yang akan menyangkal bahwa semuanya tidak bisa dibenahi? Asalkan ada usaha dan kemauan, kenapa tidak?

     Setidaknya, di dalam hubungan ini, semuanya tidak bisa berjalan sendirian. Saat memutuskan untuk menjadi 1, apa yang kau pikirkan? Cintai dia tanpa memandang kelebihannya, dan ubahlah kekurangannya menjadi sesuatu yang hanya dimilikinya. Terkadang memang apa yang dirasakan itu berat, tidak seberat hubungan yang lain. Tapi, di situlah letak perjuangan, dan tunjukkan keseriusan untuk bertahan. Sekali lagi, ujian datang bukan untuk dihindari dan dibesar-besarkan. Pahamilah dia sebaik kau memahami dirimu sendiri. Jangan paksakan kehendak jika memang dia tidak ingin. Bicarakan pelan-pelan, Buat dia mengerti, jangan buat menyesal.

     Tidak ada yang salah dengan jarak ini, dan semua yang hadir bersamanya. Tinggal bagaimana kita menyikapi segalanya. And, proud to be different!


-Selesai- 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Si Anu Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting